Danta Dhavana (Menggosok Gigi)—Sebagai Rutinitas Penting Untuk Menjaga Kesehatan

menggosok gigi

Menggosok gigi merupakan bagian dari aktifitas rutin sehari-hari kita. Kita disarankan untuk menggosok gigi paling tidak dua kali sehari, yaitu pagi dan malam hari. Kita bersama sudah tahu juga bahwa menggosok gigi membantu menjaga kebersihan gigi dan mulut.

Tahukah anda jika membersihkan gigi ternyata juga sudah dilakukan sejak ribuan tahun lalu. Bahkan di dalam Ayurveda membersihkan gigi dibahas di dalam literasi Ayurveda, salah satunya di dalam Aṣṭaṅga Hṛdaya.

Di dalam ajaran Ayurveda, menggosok gigi masuk kedalam rutinitas sehari-hari yang disebut dengan dinacaryā, yang merupakan rutinitas harian untuk menjaga tubuh agar terhindar dari berbagai penyakit dan tetap sehat. Menggosok gigi di dalam Ayurveda disebut dengan istilah danta dhavana.


Baca Artikel Sebelumnya: Dinacharya


Jika di dalam sastra Ayurveda yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu membahas mengenai membersihkan gigi, apakah pada saat itu sudah ada pasta dan sikat gigi? Seperti kita ketahui bersama di jaman sekarang ini kita membersihkan gigi menggunakan pasta dan sikat gigi.

Menggosok Gigi Menurut Ayurveda

Danta dhavana dijelaskan di bab kedua Aṣṭaṅga Hṛdaya Sūtrasthāna yang bernama Dinacaryā Adhyaya. Secara spesifik dari ayat 2 sampai 4. Berikut ini kutipan ayat yang menjelaskan tentang danta dhavana.

arka nyogrodha khadira karañja kakubhādijam.

prātarbhuktvā ca mṛdvagran kaṣāya kaṭu tiktakam. 2

kanīnyagrasamasthaulyam praguṇam dvādaśāṅgulam.

bhakṣayeddantapavanam dantamāmsānyabādhayan. 3

Artinya:

Kemudian setelah itu, dia harus membersihkan giginya dengan ranting arka, nyagrodha, khadira, karañja, kakubha dan lain-lainya, yang memiliki rasa sepet, pedas dan pahit. Ranting-ranting ini tebalnya harus seukuran dengan ujung jari kelingking dan panjangnya dua belas aṅgula (lebar jari) dan lurus, ujungnya dibuat menyerupai sikat yang lembut dengan dikunyah, gigi harus dibersihkan tanpa melukai gusi.

Arka (Calotropis gigantea), nyagrodha (Ficus bengalensis), khadira (Acacia catechu), karanja (Pongamia pinnata), kakubha (Terminalia arjuna) dan tanaman-tanaman lainnya yang memiliki rasa sepet, pedas dan pahit adalah yang paling bagus digunakan untuk membersihkan gigi.

Arka (Calotropis Gigantea)

Arka (Calotropis gigantea) yang dalam bahasa Indonesia disebut dengan Biduri atau Widuri ini memiliki rasa pahit dan pedas. Tanaman ini mudah sekali ditemukan di Indonesia, biasaya tumbuh diantara semak-semak di pinggir sawah, di pinggir jalan dan di tepi pantai.

Ciri-ciri dari Arka yang mudah untuk diidentifikasi adalah bunganya berwarna putih atau ungu, daunnya berwarna hijau pucat dan tebal berbentuk oval seperti bulat telur dan bergetah dengan warna putih susu pada tangkai daun dan batang. Biduri masuk ke dalam kategori tanaman perdu besar dengan ketinggian bisa mencapai 4 meter.

Biduri memiliki manfaat sebagai anti bakteri, pengumpul radikal bebas, penyembuh luka, anti peradangan, anti kanker dan sebagai analgesik. Selain itu juga memiliki karakter sebagai penyeimbang vāta doṣa, anti racun, bagus untuk pencernaan, menyembuhkan bengkak, cacingan, luka, gatal-gatal dan berbagai penyakit yang karena keracunan.


Baca Juga: Manfaat Arka/Biduri (Calotropis gigantea) Untuk Kesehatan


Nyagrodha (Ficus bengalensis)

Nyagrodha (Ficus bengalensis) yang dalam bahasa Indonesia disebut dengan Beringin ini memiliki rasa manis dan sepet. Beringin bukan merupakan tanaman yang asing di Indonesia karena mudah ditemukan di seluruh Indonesia.

Ciri-ciri dari beringin yang mudah sekali dikenali yaitu merupakan tanaman kayu tinggi yang akarnya biasanya menggantung dari batang pohon. Tanaman ini biasanya dianggap suci oleh masyarakat. Bahkan jika ada beringin di suatu tempat, maka di sekitarnya akan dianggap angker.

Pohon beringin tumbuh cepat, berumur panjang, dan tingginya bisa mencapai 20 sampai 25 meter, cabang-cabangnya horizontal dan dikelilingi oleh akar yang menggantung.

Beringin memiliki manfaat sebagai anti oksidan, analgesik, anti ulcerogenik dan anti peradangan. Selain itu juga memiliki karakter sebagai penyeimbang tridoṣa, sebagai pencegah, menyembuhkan haus, muntah dan luka.  

Khadira (Acacia catechu)

Khadira (Acacia catechu) yang dalam bahasa Indonesia disebut dengan Akasia ini memiliki rasa sepet dan pahit. Akasia juga sangat umum di Indonesia.

Acacia catechu adalah pohon yang berganti daun dengan mahkota berbulu terang dan coklat tua, berbulu halus, ramping dan berduri, cabangnya bersinar dan biasanya bengkok. Kulit batangnya berwarna coklat tua atau terkadang abu-abu tua, bagian dalamnya berwarna coklat atau merah memiliki ketebalan 12-15 mm, dengan permukaan kasar dan terkelupas.

Akasia memiliki manfaat sebagai anti oksidan, anti peradangan, analgesik dan anti mikrobakteri. Selain itu Acacia catechu ini memiliki karakter untuk menyeimbangkan pitta dan kapha, bagus untuk gigi, pencernaan, mengembalikan nafsu makan, mengobati cacingan, luka dan berbagai macam sakit gigi.  

Karañja (Pongamia pinnata)

Karañja (Pongamia pinnata) yang dalam bahasa Indonesia disebut dengan Malapari ini memiliki rasa pahit, pedas dan sepet. Dalam bahasa lokal disebut dengan nama-nama seperti malapari, mempari, kacang kayu laut ((Melayu), bangkong, kepik (Jawa), kranji (Madura) dan beberapa nama lainnya dari berbagai daerah di Indonesia.

Ciri-ciri dari Pongamia pinnata ini yaitu pohonnya berukuran sedang dengan tinggi sekitar 25 meter dengan kayu berwarna putih. Daunnya lonjong bulat telur dengan panjang sekitar 5-10 cm dan lebar 4-6 cm dengan ujung runcing. Buahnya banyak dengan berbentuk bulat panjang, polong keras dan berkayu dengan struktur tidak mudah pecah dan polong mengandung 1-2 biji. Bijinya berbentuk kacang berwarna coklat tua. Bunganya sangat harum, lavender, berwarna merah muda putih dengan panjang 15-18 mm.

Malapari memiliki manfaat sebagai anti peradangan, anti oksidan dan anti-ulcer (luka). Selain itu memiliki karakter sebagai penyeimbang kapha dan vāta, penyembuhkan cacingan dan gatal-gatal.

Kakubha (Terminalia arjuna)

Kakubha (Terminalia arjuna) disebut juga dengan arjuna. Terminalia arjuna memiliki rasa sepet. Sampai saat ini belum bisa dipastikan sebarannya di Indonesia dan nama lokalnya di Indonesia. Tanaman ini tersebar di India dan Sri Lanka.

Ciri-ciri dari tanaman ini yaitu bisa mencapai tinggi 20-25 meter dengan bagian atasnya membentuk kanopi yang melebar di puncak dan cabang-cabangya jatuh ke bawah. Daunnya berbentuk lonjong, kerucut dan berwarna hijau di bagian atas dan coklat di bagian bawah. Kulit batang halus dan berwarna abu-abu. Bunganya berwarna kuning pucat yang muncul sekitar bulan Maret dan Juni. Buahnya gundul, berserat 2,5 -5 cm terbagi menjadi 5 sayap dan muncul antara bulan September dan November.

Terminalia arjuna memiliki manfaat sebagai anti mikroba, anti jamur, anti tumor, ekspektoran, anti kanker, menyembuhkan haus dan berbagai jenis luka.

Pada ayat di atas pada baris pertama terdapat kata kakubādijam, dimana kata tersebut terdiri dari kata kakubha dan adijam. Kakubha sudah jelas artinya adalah Terminalia arjuna.  Kata adijam artinya “dan lainnya”. Jadi yang dimaksud pada ayat di atas dengan “dan lainnya” adalah tanaman-tanaman dengan ranting yang memiliki rasa pahit, pedas dan sepet bisa digunakan untuk menggosok gigi.     

Mengapa Rasa Sepet, Pedas dan Pahit

Di dalam Ayurveda ada 6 jenis rasa yaitu rasa manis, asam, asin, pedas, pahit dan sepet. Masing-masing rasa ini memiliki karakter tersendiri yang memiliki pengaruh kepada keseimbangan tiga jenis mood di dalam tubuh yang disebut dengan tridoṣa yaitu vāta, pitta dan kapha. Mengenai tridoṣa ini bisa dibaca di www.ayurvedaindonesia.org pada tulisan berjudul Memahami Konsep Tridoṣa.

Rasa sepet merangsang penyerapan dan menyerap kelebihan lembab, mempercepat pembekuan dan penyembuhan, menyebabkan kontraksi di dalam mulut dan yang paling utama adalah rasa pedas ini menaikkan vāta doa, menurunkan pitta dan kapha doa.

Rasa pedas merangsang otot-otot dan saraf di mulut dan memberikan sensasi panas, rasanya sangat panas. Rasa pedas menyeimbangkan kapha doa, meningkatkan pitta dan vāta doa.

Rasa pahit memiliki karakter anti bakteri, anti radang dan anti piretik, menyembuhkan hilangnya nafsu makan karena meningkatkan produksi enzim pencernaan, juga berfungsi sebagai antidote dan mengeluarkan racun-racun dari dalam tubuh, menyembuhkan mual, sensasi panas, sakit kulit dan mengurangi pitta dan kapha doṣa.

Orang Yang Tidak Boleh Menggunakan Sikat Gigi

Pada ayat 4 disebutkan mengenai kondisi-kondisi dimana seseorang tidak boleh menggunakan sikat gigi untuk menggosok gigi.

nādyādajīrna vamathu śvāsa kāsa jvarārditī.

tṛṣṇāsya pākahṛnnetra śiraḥ karṇāmayī ca tat. 4

Artinya:

Orang-orang yang menderita gangguan pencernaan, muntah, dyspnea (susah bernafas), batuk, demam, kelumpuhan pada wajah, kehausan, sariawan, berbagai sakit jantung, mata, kepala dan telinga tidak boleh menggunakan sikat gigi untuk membersihkan giginya.

Pada ayat di atas disebutkan beberapa kondisi-kondisi dimana seseorang tidak diperbolehkan untuk menggunakan sikat gigi untuk membersihkan giginya, dalam hal ini merujuk pada penggunaan ranting dari pohon-pohon yang disebutkan pada ayat sebelumnya termasuk sikat gigi modern. Untuk kondisi seperti ini bukan berarti seseorang tidak boleh membersihkan giginya, tetapi membersihkan gigi harus menggunakan bubuk dari tanaman tersebut atau dari tanaman lain yang memiliki rasa sepet, pahit dan pedas.

Manfaat Menggosok Gigi

Menggosok gigi memberikan banyak manfaat, diantaranya:

  • Mulut dan gigi menjadi bersih
  • Nafas menjadi segar
  • Mengilangkan bau tidak sedap dari mulut
  • Meningkatkan kemampuan merasakan makanan
  • Menyeimbangkan pitta dan kapha doṣa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *